Kini, jadi pemandu mendaki gunung harus lolos sertifikasi

Exploregunung.net –  Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) terus mengebut sertifikasi dan kompetensi profesi guide maupun porter dalam menyediakan jasa pemanduan mendaki gunung. Selain meminimalisir kecelakaan saat berpetualang di gunung, para pemandu diharapkan bisa memberikan pelayanan secara profesional bagi wisatawan pendaki gunung.

Menurut Fajar Endarto, APGI yang berdiri sejak awal 2016 lalu bertujuan mewadahi para pemandu gunung agar menjadi profesional dengan standar kompetensi internasional. Salah satunya menggandeng Kementerian Pariwisata dengan menggelar pelatihan dasar bagi 40 pemandu lokal di jalur pendakian Gunung Merapi- Merbabu, Rabu – Kamis (26-27/4) di Selo Pass Hotel di kawasan objek wisata Selo, Kabupaten Boyolali.

Pelatihan untuk memenuhi standarisasi pelayanan jasa pemandu gunung itu meliputi teknik berkegiatan di alam bebas seperti navigasi darat, survival dasar, SAR, tali temali, PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat), hingga materi manajemen kepemanduan gunung.

“Ini pelatihan kedua setelah di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) bulan lalu. APGI ingin meningkatkan kemampuan ilmu dan teknik guiding dari mulai penjemputan ke bandara, mau naik apa, makan dan menginap ke mana, hingga kembali diantar ke bandara. Termasuk mengatur logistik yang dibawa (mendaki gunung) itu membutuhkan air berapa liter, mengeluarkan kalori berapa, semuanya diperhitungkan,” ujar Fajar, Kamis (27/4).

Selain meminimalisir kecelakaan, kata dia, pemandu wisata gunung juga harus menunjukkan penampilan yang meyakinkan bagi pengguna jasa. Sehingga pelatihan dasar tersebut juga menyasar materi interpretasi vulkanologi, hingga konservasi Gunung Merapi dan Merbabu. Pasalnya, salah satu kode etik seorang pemandu profesional ialah “tidak boleh mengatakan tidak atau saya tidak tahu”.

“Tentu mereka sudah mengenal jalur pendakiannya. Namun dari sisi hospitality maupun pengetahuan masih kurang. Khususnya vulkanologi, termasuk soal flora, fauna, hingga bebatuan. Karena kalau dia profesional bisa menceritakan ‘itu batu apa, ini sudah mencapai ketinggian berapa, dan cerita urban legend yang ada’. Bukan hanya menjadi petunjuk jalan, tapi juga teman seperjalanan,” kata Fajar yang juga Ketua Panitia Pelatihan Dasar.

Dijelaskan, anggota APGI tersebar dari Sabang sampai Merauke. Jumlahnya mencapai 500-600 pemandu lokal yang ada di Gunung Kerinci, TNGL, Gede Pangrango, Cermai, Bromo, hingga ke Gunung Cartenz Papua.

“Keberadaan pemandu gunung diharapkan lebih profesional dan bersertifikasi. Salah satunya melalui ujian kompetensi oleh BNSP (Badan Nasional Standarisasi Profesi). Rencananya bulan Juli mendatang kita gelar di Magelang. Apalagi di Yogyakarta pada 2019 bandara baru di Kulonprogo sudah beroperasi. Ini peluang dan potensi bagi pemandu gunung di Merapi dan Merbabu,” jelasnya.

Sumber: Merdeka.com

Komentar Facebook