Mendaki Gunung, Nomor Satunya Mental!

Exploregunung – Butuh persiapan yang tidak main-main untuk mendaki gunung. Peralatan harus lengkap, pengetahuan harus oke, fisik harus siap. Tapi begitu kaki melangkah, nomor satunya adalah mental.

Itulah yang disampaikan Ardeshir Yaftebbi, salah satu pemandu tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015. Ardeshir bukan pendaki sembarangan, dialah ketua tim Indonesia Seven Summits Expedition beberapa tahun lalu. Dirinya pun sudah mendaki 5 dari 7 puncak gunung tertinggi di 7 benua.

Saya mungkin orang yang beruntung, bisa dipandu olehnya selama sekitar 10 hari pendakian saat mendaki Puncak Carstensz di akhir bulan Agustus kemarin. Ardeshir juga tidak pelit membagi-bagikan ilmu, terutama soal pendakian gunung.

“Mendaki gunung itu, nomor satunya mental. Banyak orang yang fisiknya bagus-bagus, tapi tidak kuat sampai ke puncak. Itu artinya mental mereka tidak bagus,” katanya.

Tantangan utama naik gunung sudah pasti adalah jalur yang berat, sehingga stamina terkuras habis. Belum lagi, kalau-kalau kaki merasa sakit karena berjalan jauh dan treknya menanjak.

“Sakit itu cuma dipikiran, jangan dirasain. Jalan terus,” begitu katanya berkali-kali membakar semangat tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 ketika sedang mendaki.

Saya, jujur saja, awalnya mengiyakan perkataan dari Ardeshir. Namun saat di tengah-tengah pendakian, kaki ini terasa sangat sakit. Entah, tak terhitung berapa perbukitan yang sudah dilewati. Belum lagi, tak sedikit ada tanjakan yang kemiringannya nyaris 90 derajat! Apanya yang mental, Ardeshir?

“Di pikiran kita, harus jalan terus jalan terus. Itu makanya, mendaki gunung sebenarnya melatih mental biar nggak mudah menyerah. Makin banyak mendaki gunung, mental kita makin kuat dan rasa sakit di kaki nggak bakal kerasa,” paparnya.

Tapi Ardeshir mengingatkan, mental yang kuat tanpa disertai ilmu pengetahuan pendakian gunung yang bagus sama dengan nol. Maka Ardeshir berbagi ilmu, biar tidak mudah capek saat mendaki.

“Langkah kaki pendek-pendek saja dan pelan-pelan. Nggak usah buru-buru dan panjang-panjang langkahnya, karena itu yang buat stamina cepat habis. Jangan juga kelamaan istirahat kalau sedang jalan,” tuturnya.

Bagaimana jika kita mendaki gunung bareng teman-teman dan ada satu orang yang mentalnya tidak kuat? Jangan di-bully, justru harus terus disemangati dan tetap diperhatikan jikalau kondisinya mengkhawatirkan.

“Yang nggak terlalu kuat, baiknya jalan lebih dulu dari rombongan. Kalau belakangan, nanti malah jadi makin lama,” begitu sarannya.

Jadi, siapkan mental, fisik, pengetahuan dan peralatan dengan maksimal. Naik ke puncak gunung tidak sekedar merasakan kepuasan menyentuh puncaknya. Lebih dari itu, ada pengalaman dan pelajaran hidup yang tidak akan kamu temukan di tempat lain. Betul tidak?

(Afif Farhan – detikTravel)

Komentar Facebook