Sampah di Gunung, Salah Siapa?

Para porter dan pemandu wisata di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, tengah membersihkan kawasan itu dari tumpukan sampah yang dilakukan secara rutin. Selain persoalan interen antarlembaga pengelola, pembersihan itu terhenti sementara karena tidak ada dana. (KHAERUL ANWAR)
Para porter dan pemandu wisata di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, tengah membersihkan kawasan itu dari tumpukan sampah yang dilakukan secara rutin. Selain persoalan interen antarlembaga pengelola, pembersihan itu terhenti sementara karena tidak ada dana. (KHAERUL ANWAR)

Exploregunung – Demam naik gunung belakangan memang marak di Indonesia. Beragam foto orang sambil memegang tulisan tertentu di puncak gunung kerap kali meninggalkan sampah yang mengotori. Pendaki-pendaki gunung juga tak selalu melakukan operasi semut dalam pendakiannya.

Hal ini menjadi salah satu topik Talkshow Wisata Gunung Nusantara, di Kompas Travel Fair (KTF) 2015, JCC, Sabtu (29/8/2015).

Menurut Sofyan, pembicara dari Indonesia Expeditions, budaya buang sampah sembarangan ini terjadi karena mental masyarakat yang terbiasa melakukan itu. Masyarakat sehari-hari membuang sampah sembarangan sehingga saat mendaki gunung kebiasaan ini terbawa.

Selain itu Sofyan juga menilai ada kecenderungan berpikir anak muda masa sekarang, semakin jauh melanggar aturan akan semakin keren. Hal ini menjadi salah satu pemicu kecenderungan membuang sampah di gunung. “Biasanya kan yang melakukan itu berpikir makin melanggar aturan makin keren,” terangnya.

Menurut Sofyan, para pendaki gunung dan calon pendaki sendiri masih perlu banyak diedukasi agar lebih mau menjaga dan menghargai alam. “Kalau kita lihat bule sehari-harinya nggak buang sembarangan, jadi di gunung juga begitu, ini masalah kebiasaan,” paparnya.

Sofyan juga memandang ada beberapa sistem yang cukup menarik dan mungkin dapat diadopsi pihak pengelola gunung untuk menjaga lingkungannya.

Di Nepal, misalnya, para pendaki diminta mendepositkan sejumlah uang sebelum mendaki yang nantinya dapat ditukar kembali dengan sampah yang mereka bawa. Hal ini dilakukan agar pendaki lebih bertanggung jawab atas sampahnya.

Sementara itu Adi Seno, pembicara dari Fit at 50 memiliki pandangan berbeda. Menurut Adi, gunung itu tempat di mana seseorang bisa merasakan kebebasan. “Di gunung kita bebas, kita yang mengatur diri kita. Jadi kalau mau buang sampah ya sudah,” paparnya.

Adi percaya setiap perbuatan pendaki pasti akan membawa dampak pada mereka sendiri. Adi sendiri memandang buang sampah itu seharusnya bukan hanya hal yang perlu diprotes di gunung, tapi di semua tempat.

“Kita jangan jadikan gunung sebagai simbol tidak boleh buang sampah. Di mana pun tidak boleh buang sampah,” tutupnya.

(Jonathan Adrian/kompas.com)

Komentar Facebook